Jika bertanya kepada orang yang anda kenal mengenai “apa yang harus dilakukan seorang jurnalis ketika meliputi sebuah berita”, mungkin anda akan mendengar kata “netral”. Memang betul, kata “netral” yang lekat pada suatu media akan membuat media tersebut dipandang memiliki karakter yang adil, berimbang, dan tentunya tidak bias. Penilaian masyarakat tersebut dapat menaikkan kredibilitas media yang disebut.

Dalam dunia jurnalistik, media yang baik tentu dipandang sebagai media yang independen serta netral. Dengan kedua kata tersebut, media dinilai memberikan informasi tanpa bias, dan tak berpihak ke kubu mana pun. Adil dalam memberikan porsi informasi dari kedua belah pihak, serta dapat membuat masyarakat memahami isi dari berita yang diangkat.

Namun, kedua kata tersebut jelas memiliki definisi yang berbeda.

Netralitas, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki arti keadaan dan sikap yang tidak memihak. Ada alasan mengapa pada masa Perang Dunia Kedua, Swiss mendapat julukan ‘zona netral swiss’, sebab ia tidak berpihak kepada golongan axis (Jerman, Italia, Jepang) dan sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Uni Soviet). Ketidak-berpihakan seseorang atau suatu instansi dapat disebut sebagai keadaan atau sikap netral.

Independen memiliki arti ‘berdiri sendiri’, ‘swadaya’, ‘merdeka’, dan ‘bebas’. Ia tidak (mau) bergantung pada pihak lain, tidak (mau) dipaksa oleh pihak lain. Ia bergerak dengan sendiri, bebas, dan merdeka. Ia tidak menerima perintah dari pihak lain. Orang yang independen dapat diartikan sebagai orang yang berdiri sendiri, kuat, serta mampu bertahan tanpa bergantung dengan orang lain.

Media yang netral memiliki arti bahwa media tersebut memilih untuk tidak berpihak. Sementara media yang independen memiliki arti bahwa media tersebut berdiri sendiri tanpa bergantung dengan pihak lain.

Media yang netral belum tentu independen, sementara media yang independen belum tentu netral. Media yang netral dapat berdiri dengan bergantung dengan satu pihak atau banyak pihak, sementara media yang independen memiliki kebebasan untuk memihak kemana pun, atau bahkan tak memihak sekali pun.

Namun, saya rasa tidak ada media yang benar-benar netral. Dalam kelas-kelas sejarah jurnalistik hingga komunikasi sosial, kami diajarkan mengenai konglomerasi media. Satu kelompok perusahaan atau orang mampu memiliki satu hingga ratusan media. Seperti Tribu**ews dan saudara-saudaranya yang berada di bawah Ko**as, atau Viv**ews dan TvO** yang dimiliki oleh satu orang.

Dalam suatu isu, misalkan isu lumpur lapi**o, satu media akan mengkritisi kelambanan pihak yang bertanggungjawab, sementara media yang dimiliki oleh orang yang terlibat dalam isu tersebut akan mengangkat berita tersebut dengan cara yang halus, atau bahkan tidak mengangkatnya sama sekali. Atau ketika seorang ketua umum partai menyampaikan pidato, ia memiliki slot untuk ditampilkan video pidatonya dalam sebuah stasiun tv miliknya, sementara stasiun tv lainnya (kompetitor) memilih untuk mengkritisi, atau bahkan tidak menampilkannya.

Screen Shot 2018-12-10 at 12.37.53 AM
The New York Times mendukung Hillary Clinton (D) dalam putaran pemilihan presiden AS pada tahun 2016.

Menurut saya, jurnalis, bahkan media, akan sulit untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang bersabda bahwa kedua pihak tersebut harus netral. Jurnalis/media dapat meliput berita dan memberikan porsi informasi yang berimbang, karena telah meng-cover both sides. Namun, pemberian informasi tersebut akan dikelilingi oleh bias-bias, baik yang dimiliki oleh sang jurnalis maupun media.

Bias-bias tersebut mampu dipengaruhi dari ideologi, etnis, atau agama yang dimiliki/dianut oleh jurnalis, atau bahkan karena tuntutan atau kebijakan dari media tersebut. Tentunya seorang jurnalis muslim yang meliputi isu muslim rohingya akan memiliki bias agama, dibandingkan seorang jurnalis katolik yang meliputi isu yang sama. Atau, jurnalis dari TV**e dan M*tro*v akan menghasilkan pesan jurnalistik yang berbeda ketika sama-sama mengangkat isu pilpres 2014 lalu.

Screen Shot 2018-12-10 at 12.39.54 AM
Editorial The Jakarta Post menyatakan dukungannya kepada Jokowi pada pemilihan presiden Indonesia tahun 2014.

Dalam kode etik jurnalistik yang telah disusun oleh PWI, tidak disebutkan bahwa seorang jurnalis/wartawan harus bersikap netral. Justru, pada ayat 1 dari kode etik tersebut, disebutkan bahwa:

  1. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Seorang jurnalis, sejatinya, harus menjadi seorang yang independen, ia tidak bergantung pada pihak lain, dan juga tidak dipaksa oleh pihak lain. Profesi jurnalis murni untuk memuat, dan menyebarkan informasi yang bersangkutan dengan kepentingan publik kepada khalayak luas. Ia juga harus meliputi suatu isu secara imbang dari dua belah pihak, namun bukan berarti harus bersikap netral.

Seorang jurnalis, pasti berpihak, berpihak kepada publik, kepada kebenaran, kepada orang-orang yang tak mampu bersuara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *