coki_dan_muslim
Tretan Muslim (Kiri) dan Coki Pardede (Kanan). Sumber: ayobandung.com

“Bagi Kami orang muslim, bagian dari babi yang paling enak adalah dibuang”

– Tretan Muslim

Dua komedian Majelis Lucu Indonesia, Tretan Muslim dan Coki Pardede, memutuskan untuk ‘pensiun dini’ dari kelompok humor tersebut beberapa hari yang lalu. Hal tersebut dikarenakan konten video mereka mengenai ‘babi yang dimasak dengan sari kurma’ banyak dinilai oleh masyarakat sebagai sebuah penistaan. Keputusan kedua komedian untuk hengkang dari Majelis Lucu Indonesia membuat para penikmat komedi bergaya satir ini kaget dan menyesalkan keputusan tersebut.

Beragam reaksi timbul dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari yang bersimpatik, hingga menunjukkan rasa ketidaksukaan kepada kedua komedian ini. Tentu, sebagai penikmat dari karya-karya kedua komedian ini, terutama timbulnya rasa kesamaan etnisitas dengan Tretan Muslim, saya menyesalkan keputusan kedua komedian ini, namun tetap mendukung jalan apapun yang mereka pilih.

Memang betul, muslim sendiri berlebihan, ia sendiri mengakui dalam video ‘pamit’nya. Beberapa orang menilai, seharusnya kedua komedian ini melawak sesuai pada tempatnya, dalam konteks nilai dan budaya yang dianut setempat. Yang dimaksud dengan nilai dan budaya adalah nilai dan budaya muslim yang mengakar kuat, terlebih, Muslim sendiri adalah seseorang yang datang dari latar belakang etnis Madura, seperti saya, yang 99% sangat kental dan paham mengenai nilai dan budaya muslim tersebut.

Namun, gaya komedi yang dibawakan oleh kedua komedian ini merupakan komedi gaya satir. Jelas berbeda dengan komedi ala Mr. Bean, dan jauh lebih berkualitas dengan lawakan-lawakan murahan di televisi Indonesia yang menampilkan adegan pukul-pukulan menggunakan properti gabus. Masyarakat terlihat tak dapat membedakan gaya-gaya komedi tersebut.

Satir merupakan sebuah gaya bahasa atau gaya penampilan (dalam seni penampilan) untuk menyindir terhadap suatu keadaan atau perorangan. Biasanya ditampilkan berupa sarkasme, ironi, bahkan parodi. Muslim dan Coki membawakannya dengan gaya sarkastik dan parodi. Tujuannya? yang saya tangkap adalah menyindir perilaku masyarakat Indonesia yang overdosis dengan agama, bersikap rigid dan tertutup.

Saya turut menyesalkan reaksi berbagai orang yang justru ‘menusuk’ kedua komedian ini dengan ancaman-ancaman, tidak hanya untuk keduanya, tetapi juga untuk keluarganya. Hal yang paling logis yang dapat dilakukan oleh keduanya adalah ‘pensiun dini’, guna menyelamatkan mereka serta keluarganya dari ancaman-ancaman tersebut. Hal tersebut menandakan ketidakdewasaan orang-orang dalam menanggapi komedi.

Jika memang orang-orang tidak menyukai gaya komedi yang dibawakan oleh kedua komedian ini, carilah pelawak-pelawak lain yang selera humornya sesuai dengan orang-orang tersebut.

Apa yang dilakukan oleh kedua komedian tersebut merupakan hal yang lumrah. Mereka mengkritisi, dalam bentuk komedi satir, ide-ide buruk yang terlekat pada perilaku dan sifat masyarakat. Tidak ada yang salah dalam mengkritisi ide-ide buruk. Bahkan, dalam pandangan saya sendiri, segala hal yang ada di dalam dunia ini, tak lepas dari sorotan kritik. Jika memang suatu budaya memiliki ide yang buruk, maka hal tersebut patut untuk dikritisi.

Perlu saya tekankan, yang dikritisi oleh kedua komedian ini adalah sifat dan perilaku rigid dan tertutup masyarakat yang sudah overdosis dengan agama. Mereka ingin menunjukkan bahwa dalam beragama, tidak perlu sekaku dan sesumbu pendek itu. Hanya saja, muslim sendiri mengakui ia berlebihan. Tak perlu minta maaf, muslim. Jika mereka merasa tersinggung, biarkanlah. Memang itu tujuannya toch?

Anggap saja dunia komedi seperti pasar, audiens merupakan konsumen, dan komedian adalah produsen. Jika audiens tidak menyukai kualitas dari produk yang ditawarkan oleh satu komedian, seharusnya ia akan berpindah ke komedian lainnya yang menawarkan produk yang lebih cocok untuk audiens.

Jika kebebasan untuk menyinggung dibungkam, maka kebebasan untuk berekspresi perlahan akan menghilang. 

Hormat saya kepada kedua komedian ini, sukses selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *