Cast of The Joy Luck Club (1993)

Pada tahun 1993, Sutradara asal Hong Kong Wayne Wang menyutradarai sebuah film yang diangkat dari sebuah novel berjudul “The Joy Luck Club” oleh Amy Tan dengan judul yang sama. Jika kita menyelisik film tersebut dalam konteks sosio-kultural, maka dapat ditemukan secara jelas bahwa film ini diperankan oleh All-Asian cast, seperti Kieu Chinh, Tsai Chin, France Nuyen, Lisa Lu, dan tentunya, Russell Wong. Film ini menceritakan mengenai empat wanita dari generasi pertama imigran asal tionghoa, yang berkumpul bermain mahjong sembari menceritakan kisah mereka mengenai anak-anak mereka yang lahir dan tumbuh di Amerika (“Americanized“).

25 tahun kemudian, muncul kembali film-film menarik yang diperankan oleh All-Asian Cast, salah satunya adalah Crazy Rich Asians, yang sama seperti The Joy Luck Club, sebuah film yang diangkat dari Novel dengan judul yang sama, “Crazy Rich Asians” oleh Kevin Kwan. Film ini menerima respons yang positif, dengan audience score sebesar 84% di rottentomatoes.

Crazy Rich Asians menceritakan Rachel Chu (Constance Wu), seorang profesor ekonomi di New York, dan merupakan orang asli New York keturunan Tionghoa, memiliki seorang kekasih, Nicholas Young (Henry Golding), yang ternyata adalah seorang anak dari keluarga yang kaya raya. No, seriously, KAYA RAYA. Cerita ini mungkin merupakan spin-off dari kisah Cinderella. Hanya saja, dikisahkan dengan sentuhan budaya tionghoa yang kaya dan mengakar.

Ada dua fakta menarik seputar Crazy Rich Asians ini. Penulis novel tersebut, Kevin Kwan, tidak berani menginjakkan kakinya kembali ke Singapura, negara asalnya. Jika ia berkunjung, maka otoritas Singapura akan mendatanginya untuk menangkap serta menginterogasinya. Bukan karena novel yang ditulisnya memicu isu yang tidak enak, melainkan selama masa mudanya, ia menghindari perintah wajib militer pemerintah Singapura. Justru, Kevin sejak kecil tinggal bersama orangtuanya di Amerika Serikat.

Lalu yang kedua, tidak semua aktor/aktris pada cast ini sepenuhnya keturunan tionghoa. Henry Golding yang memerankan Nick Young adalah seorang aktor British-Malaysian yang beretnis Iban Malay, sementara Araminta Lee (Istri Colin) yang diperankan oleh Sonoya Mizuno adalah blasteran Jepang-Inggris-Argentina. Hal tersebut memicu kritik dari Jamie Chung, aktris yang memerankan Nima di Premium Rush dan Lauren Price di The Hangover keturunan Korea yang ingin mendapatkan peran di film tersebut namun ditolak karena “bukan keturunan tionghoa”. Sutradara Jon M. Chu merasa bahwa tidak ada yang bisa meniru logat Inggris Nick seperti yang ada di buku sebaik Henry ketika Jon melakukan casting di beberapa tempat seperti di Los Angeles dan Cina.

Dialog yang disajikan pada film ini mungkin tidak se-cheesy rom-com lain seperti New Year’s Eve atau Love Actually, namun hal tersebut justru membuat dialog dalam film ini lebih baik daripada kedua film tersebut. Dialog antara Rachel dengan Eleanor (Michelle Yeoh) justru menjadi hal yang, menurut saya, dapat membuat seseorang menjadi tidak nyaman, sebuah hal yang mungkin ditemui oleh orang-orang ketika bertemu pertama kali dengan orangtua kekasihnya. Hubungan antara Rachel dengan ibunya tidak digambarkan dengan baik, namun pembangunan hubungan tersebut dapat ditemui 20-30 menit sebelum film berakhir.

Eleanor (Michelle Yeoh)

Setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda, dan yang jelas, unik. Masing-masing dari mereka memiliki kisah dan konfliknya masing-masing, seperti sepupu Astrid (Gemma Chan) dengan suaminya, Eleanor dengan Ah Ma Shang Su Yi (Lisa Lu). Yang jelas, sulit bagi saya untuk mengeluarkan bayangan Constance Wu dari perannya sebagai Jessica Huang di Fresh Off the Boat yang tergambar kaku namun family loving. Keunikan dari tokoh tersebut mampu diciptakan dari akting yang luar biasa bagus dari masing-masing aktor/aktris, sehingga scene-scene yang disuguhkan kepada penonton tidak cringy. Scene yang berhasil bikin baper satu studio adalah di Gereja, yang berhasil membuat ayah saya pun merasakan esensi baper untuk pertama kalinya ketika menonton film.

Konflik pada film ini sederhana, dan terlalu cepat. Namun berkat kisah minor seperti hubungan Astrid dengan suaminya Michael (Pierre Png), Crazy Rich Asians setidaknya memiliki cerita yang unik. Sungguh disayangkan, peran Ah Ma Shang sangat sedikit, ekspektasi saya beliaulah yang menjadi pusat dari persetujuan hubungan antara Nick dan Rachel. Namun Michelle Yeoh berhasil memerankan peran seorang ibu yang tidak rela anaknya menikah dengan seorang perempuan yang bukan berasal dari kelasnya.

Film ini juga menyajikan konflik antarbudaya, bahkan kepada sesama etnis tionghoa. Eleanor menilai bahwa Rachel tidak akan cocok dengan keluarganya, sebab Rachel lahir dan tumbuh di Amerika Serikat, sehingga menurutnya, esensi nilai-nilai tionghoa pada Rachel pun pudar. Meski Rachel terlihat sebagai seorang tionghoa dan berbahasa mandarin secara fasih, Rachel dianggap sebagai sebuah pisang, yang berwarna kuning di luar (Orang Asia digambarkan berkulit kuning), sementara putih di dalam (Berperilaku serta berpikir seperti orang kaukasia). Eleanor digambarkan sebagai seorang ibu yang tradisionalis dan konservatif, sementara Rachel merupakan seorang profesor ekonomi yang berpikiran terbuka serta modern. Kedua hal tersebut bertemu, kemudian terjadi clash yang sulit dihindarkan, bahkan hal tersebut bisa menggambarkan realitas kehidupan orang-orang asia pada umumnya.

Teknis pengambilan gambar pun jangan ditanya. Jon M. Chu berhasil memperlihatkan kehidupan glamor orang-orang kaya yang tinggal di Singapura, meski pengambilan scene rumah keluarga Nick dilakukan di Malaysia. Seperti yang saya bilang sebelumnya, scene di gereja merupakan salah satu scene yang bisa bikin baper, karena pengambilan gambar yang halus serta scoring yang luar biasa indah dari Kina Grannis dan akting Constance Wu yang justru menambah keadaan menjadi tidak kondusif bapernya.

Lagu-lagu yang diambil untuk film juga bagus. Crazy Rich Asians mampu menambahkan scoring yang tepat untuk menggambarkan kehidupan glamor orang-orang Asia dengan lagu-lagu big band/swing dengan bahasa mandarin. Lagu-lagu dari Grace Chang, serta cover dari Jasmine Chen membawa audiens untuk merasakan musik-musik cina pada masa lalu, dengan perpaduan musik-musik modern di lain scene.

Film ini cocok untuk ditonton sebagai hiburan bagi sebagian orang. Namun, film ini juga cocok untuk dijadikan referensi bagi sebagian orang yang ingin menghadapi mertua/calon mertua yang tradisionalis dan konservatif.

8.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *