Sains atau Ilmu Pengetahuan telah membantu mempermudah kehidupan manusia selama lebih dari 2 hingga 3 abad. Sains merupakan sebuah metode dalam menemukan jawaban dari pertanyaan “Apa?” dan “Bagaimana?”. Dahulu kala, manusia tidak begitu mengerti cara dunia dan hukum alam bekerja, hingga mereka berkesimpulan bahwa sesuatu yang ghaib-lah yang menciptakan segala fenomena alam yang terjadi di dunia ini. Namun semenjak Ilmu Pengetahuan berkembang, pemahaman manusia mengenai cara dunia dan hukum alam bekerja perlahan berubah, karena sains atau ilmu pengetahuan telah membantu menjawab segala persoalan tersebut.

Sains diawali dengan pernyataan “I want to know” atau “Saya ingin tahu”. Untuk memenuhi rasa keingintahuan tersebut, sains merupakan sebuah metode berupa pengumpulan data atau informasi mengenai suatu fenomena dengan cara diobservasi dan diuji secara sistemik. Fenomena tersebut dapat berupa alami, abstrak, fisik, konkrit, atau bahkan metafisik sekalipun. Dari perasaan “ingin tahu” atau penasaran tersebut, lahirlah produk berupa pengetahuan. Bisa dibilang akar dari sains adalah filsafat, karena berawal dari sebuah pertanyaan. Namun, sains menggunakan penggunaan yang riil dan logis.

Berbeda dengan sains yang logis dan rasional, kepercayaan adalah sebuah cara menjelaskan semesta dengan menggunakan sentimen dan kualitas daripada emosi. Kepercayaan melihat dunia dari segi emosional dan dogmatis, sementara sains melihat dunia dari segi observasi dan logis. Hal tersebut menjadi perdebatan di kalangan para akademisi yang memercayai bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak dapat dijawab sains, sehingga mereka menggunakan agama yang bersifat dogmatis sebagai cara mereka memandang dunia. Hal tersebut, menurut saya, akan memengaruhi objektivitas ilmu pengetahuan, karena seorang akademisi akan menggunakan pendekatan agamis atau yang bersifatnya personal dalam melihat sebuah fenomena.

Namun, sains dan agama sama-sama memiliki kesamaan yang patut diapresiasi: keduanya sama-sama berhasil membangun peradaban manusia. Sains dengan segala kemajuan teknologinya, sementara agama dengan kenyamanan yang diberikan kepada pengikutnya akan kehidupan setelah kematian. Akan tetapi, semuanya akan dinilai dari realita. Sains mengandalkan bukti yang sifatnya teruji dan riil, sementara agama mengandalkan kepercayaan yang sifatnya emosional dan personal.

Ilmu pengetahuan mengedepankan hasil daripada uji observasi dan peer review, atau penilaian dari sesama ilmuwan dari segi akademis dengan mengaplikasikan teori-teori dan hukum-hukum saintifik yang berlaku. Teori dalam ilmu pengetahuan alam sangat berbeda dengan teori dalam dunia akademis lainnya. Teori dalam ilmu pengetahuan alam mengedepankan observasi yang sudah diuji berkali-kali dan sudah diulas oleh sesama ilmuwan. Namun, teori masih bisa ditolak berdasarkan bukti baru yang sifatnya kuat dan konkrit.

Sains sangat berkontribusi kepada peradaban umat manusia dari segi teknologi, kesehatan, dan mempermudah pekerjaannya. Segala penemuan sains seperti mobil, mesin-mesin pencakar langit, komputer, roket, dan lain-lainnya membantu memperlihatkan kejayaan manusia sendiri tanpa campur tangan hal yang “ghaib”. Dahulu, penemuan-penemuan tersebut hanya diwartakan oleh orang-orang yang kebetulan menyaksikan atau mendengarkan penjelasan dari ilmuwan yang berkeliling mengungkapkan penemuan-penemuannya. Di saat seperti itu, jurnalisme saintifik pun datang memasuki dunia ilmu pengetahuan.

Jurnalisme sains merupakan cabang dari jurnalisme yang menginformasikan khalayak mengenai temuan-temuan saintifik. Seorang wartawan sains sangat berperan dalam mempromosikan atau menginformasikan penemuan-penemuan baru dari ilmuwan. Sebagai contoh, jurnalisme sains di Amerika tentunya pernah terlibat dalam perang dingin melawan Uni Soviet dalam mewartakan siapa yang terbaik dan pertama untuk dapat menginjakkan kaki di bulan. Rupanya, Uni Soviet memenangkan pertarungan sengit tersebut, dan Amerika harus mengalah karena mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk sebuah pulpen yang dapat bertahan di antariksa.

Seorang jurnalis sains harus memiliki wawasan yang cukup luas mengenai dunia saintifik, dan juga harus mengerti seluk-beluk dari Ilmu pengetahuan tersebut. Pewartaan penemuan saintifik juga harus dibekali pengetahuan yang detil dan cukup sistemik dari si pewarta tersebut. Jurnalisme sains sangat berperan dalam mengedepankan informasi penemuan-penemuan saintifik kepada khalayak luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *