“Dengan singkat, Fenomena Sosial dahulu, baru Film.”

**Spoiler Alert**

blackpanther-1-664x335
Dari Kiri: T’challa (Chadwick Boseman); N’Jadaka (Michael B. Jordan)

Satu lagi film dari Marvel Comics Universe yang membuat diri saya terpukau; Black Panther. Mungkin karena saya menganggap Marvel, dalam dunia perfilman, lebih mendominasi ketimbang DC, saya memiliki penilaian plus terhadap film-film yang berbau Marvel. Namun, sebagai seorang awam yang hanya memahami universe Marvel dari ujung dari gunung es, saya tak patut menilai dari perspektif komik. Film ini mampu menimbulkan kontroversi, itu pun menurut kacamata saya sendiri. Mungkin ini akan saya jelaskan setelah saya mengulas isi daripada film ini.

 

Film ini mengadopsi konsep “Afrofuturisme“, sebuah estetika budaya, filsafat sains, dan juga filsafat sejarah dari budaya afrika-amerika dengan sedikit (banyak) sentuhan teknologi. Hal tersebut dapat kita perhatikan dari betapa majunya teknologi yang dimiliki Wakanda – sebuah negara fiktif di Marvel Universe; tetangga Nigeria – dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, bahkan lebih maju dibandingkan Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

Secara garis besar, film ini mengisahkan bagaimana Raja T’challa (Chadwick Boseman) menjalankan tugasnya sebagai Raja dari Wakanda, dan bagaimana ia mampu memperebutkan takhta warisan ayahnya dari “musuh-musuh” Wakanda. Memang pada dasarnya, Wakanda ini mengisolasi “sifat aslinya” dari dunia luar, guna melindungi harta kekayaannya. Satu-satunya negara di dunia ini yang sepertinya berhasil dengan mengisolasi dirinya sendiri adalah Korea Utara.

Jalan ceritanya juga hampir (sangat) mirip dengan sebagian besar film-film superhero; Menang (Hampir Kalah) – Kalah telak – Bangkit – Menang (sengit). Kita bisa melihat bagaimana sengitnya T’challa bertarung melawan M’Baku (Winston Duke) dari suku Jabari, yang akhirnya dimenangkan walau hampir mengalami kekalahan, hingga kekalahan tragis T’challa melawan sepupunya yang telah lama hilang, Erik “Killmonger” Stevens atau N’Jadaka (Michael B. Jordan).

Saya merasa kurang dengan pembangunan karakter seorang N’Jadaka atau Erik “Killmonger” Stevens yang diperankan oleh Michael B. Jordan. Pembangunan tersebut menurut saya kurang digali dan terlalu menggambarkan radikalisme “black lives matter“. Kurang digali karena saya sendiri tidak terlalu melihat tindakan diskriminasi yang sebegitu beratnya dialami Erik sehingga ia menjadi radikal dan sangat membenci orang-orang yang mendiskreditkan orang-orang kulit hitam.

Secara overall, film ini mungkin dapat ditebak, apalagi jika anda sudah menonton film-film MCU lainnya. Tetapi, ini baru film pengenalan bukan?¬†Setahu saya, Black Panther pertama kali muncul di MCU adalah di Captain America: Civil War. Namun, kehadiran Black Panther di bioskop terdekat mampu mengobati rasa penasaran para audiens yang berpikir “Who the Fuck is Black Panther?” ketika mereka pertama kali bertemu dengan dirinya di Civil War.

Tetapi, saya rasa Black Panther ini merupakan sebuah terobosan yang penting dalam memajukan industri perfilman di bawah arahan talenta kulit hitam, meski sudah banyak film-film dengan tokoh utama kulit hitam seperti Blade, The Pursuit of Happiness, dan masih banyak lagi, namun, entah mengapa, saya pun merasakan hal yang sangat positif dari Black Panther ini.

Seperti yang (hampir) sebagian besar masyarakat Amerika Serikat ketahui, film Black Panther ini termasuk salah satu film yang disutradarai oleh seorang kulit hitam (Ryan Coogler), dan dengan cast yang mayoritas berkulit hitam, menjadikan film Marvel pertama yang diisi dan diperankan oleh aktor, sutradara, dan kru film berkulit hitam. Mainly blacks. Akan sangat keliru jika anda beranggapan bahwa film ini mengandung unsur Diversity. Aktor kulit putih pun hanya dapat dihitung dengan jari (Ulysses Klaue diperankan oleh Andy Serkis; Agen Everett K. Ross diperankan oleh Martin Freeman). So in response to the mainstream critics, where the hell is the diversity?!

Tetapi ingat, jangan salah artikan film ini sebagai propaganda Partai Black Panther! Partai tersebut sudah lama bubar!

56c5f3611300002b0014173e
Black Panther Party Protest (David Fenton/Getty Images)

Film ini mampu mengandalkan fenomena sosial, mengingat latar belakang sosial Amerika Serikat saat ini sedang dilanda isu multikulturalisme dan bangkitnya rasisme, baru setelah itu, film itu sendiri, yang 1 banding 10 dari semana film hollywood, diproduksi, disutradarai, dan dibuat oleh bakat-bakat kulit hitam. Dengan singkat, Fenomena Sosial dahulu, baru Film.

Tokoh T’Challa seolah-olah menjadi penetral atau orang yang ‘waras’ dari hype gerakkan sosial “Black Lives Matter“. Jika kita menelusuri kasus-kasus diskriminasi rasialis di Amerika Serikat yang mendiskreditkan orang-orang kulit hitam dari kekerasan polisi kepada orang-orang kulit hitam, hingga bangkitnya KKK di bawah masa kepemimpinan Donald Trump, kita dapat melihat juga bangkitnya radikalisme kulit hitam yang akan melakukan apa saja yang diperlukan guna melindungi sesamanya. Sifat radikalisme tersebut tercermin di dalam tokoh Killmonger. Killmonger mengetahui potensi vibranium yang dimiliki Wakanda, dan merasa marah ketika hal tersebut tidak dimanfaatkan untuk mempersenjatai “brothers” (Saudara kulit hitam) di seluruh dunia untuk melawan diskriminasi terhadap kulit hitam. It’s either you conquer or be conquered.

Movie: 8.7/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *